Minggu, 16 Agustus 2009

Manusia Terakhir

Lucu rasanya melihat teman-temanku terus saja tertawa mereka seperti tidak punya masalah. Mereka terus memanggilku untuk ikut tertawa bersama mereka dan aku sangat menyukainya.

Hari itu seperti hari terakhir bersama mereka karena aku sangat bahagia dan tidak ingin melepaskan kebahagiaan itu. Sampai akhirnya aku pulang ke tempat laknat itu lagi. Tempat yang tidak ingin aku kunjungi tapi aku harus. Aku harus memuaskan tatapan-tatapan nafsu itu dengan senyumanku. Senyuman yang datang dari bibirku.

Seorang laki-laki sudah menungguku, aneh. Kali ini sangat tampan dan dia memiliki aroma yang sangat kukenal tapi aku tidak dapat mengingat. Aroma ini, ah entahlah. Mungkin aroma yang biasa kuhirup setiap hari dari berbagai lelaki yang datang. Aku tak mau ambil pusing toh dia akan melupakanku dalam sekejap.

Dia menungguku dua jam, entah apa yang ada dipikirannya padahal masih banyak wanita disini dan akupun bukan yang tercantik. Tapi tak apalah sudah hampir setengah perjalanan aku tidak menemukan sosok yang rupawan.

Dia tidak banyak bicara. Dia langsung menghampiriku, melihatku dari atas sampai bawah dan berhenti di tengah, memang dasar laki-laki. Lalu dia mengambil tanganku sembari berjalan menuju ruangan yang selalu kugunakan.

Aroma ini. Aku merasa sesuatu tapi aku tidak dapat berpikir. Kulayani saja dia dengan sangat baik tentunya. Dia tersenyum dan mengambil sesuatu dari tasnya mendekatiku dan dalam sekejap aku dapat melihat diriku terbujur kaku.

Sebelum itu aku mendengar suara letupan kencang. Aku melihat sesuatu dalam rahangku dan aku mengenali itu sebuah timah panas bersarang disana. Aku melihat dia tertawa dan berbisik "aku kembali" dan aku ingat suara itu. Lalu dia menemaniku melihat dua sosok yang tidak dapat bernapas lagi.

Tidak ada komentar: