Senin, 13 Mei 2013

Hutan Ke-

Lalu pergi bersama awan..

Aku lagi-lagi di hutan. Hutan yang seperti waktu itu tapi rasanya bukan, ini hutan yang lain. Aku sudah berjalan melewati hutan yang itu dan beberapa hutan lagi. Hutan yang yang ini lebih gelap karena aku tak bisa mulihat apapun. Tangan kananku memegang erat kayu panjang yang tadi menjatuhkanku. Lumayan, untuk membantuku berjalan.

Sepertinya kakiku luka, aku tak tahu. Rasanya perih tapi aku tak bisa melihatnya. Kurasa benar kakiku terluka. Aku tak tahu harus apa, aku hanya terus berjalan tanpa menghiraukan sekitarku tapi kurasa memang tak ada apa di sekelilingku.

Aku melihat warna langit menjadi biru tapi tetap gelap. Oh, tadi itu malam hari. Bodoh, aku tak tahu sudah berapa lama di hutan ini sampai tak bisa membedakan hari. Aku pikir ini hutan gelap yang kemarin. Ah, kan sudah kubilang kalau aku sudah melewati hutan itu.

Oh, Aku melihat rumah. Sebelah kanan, aku harus berjalan ke arah kanan. Aku harus memimnta pertolongan. Aku harus keluar. Keluar? 

Entah. Aku hanya tahu aku harus ke rumah itu dan mencari bantuan. Aku setengah berlari. Jantungku berdegup kencang, seluruh tubuhku hangat, kakiku lemas dan bibirku kering. Aku bahkan tak sempat membuka pagar kayu rumah itu, langsung saja kutabrak. Entah apa yang ada dipikiranku.

Aku menyandarkan tangan kiriku ke pintu. Kayu yang selama ini menemaniku sejak aku jatuh juga kusandarkan sampai terjatuh. Aku sudah tak ada tenaga untuk mengambil kayu itu bahkan ketukan tanganku di pintu nyaris tak terdengar. Aku mencoba berteriak tapi suaraku juga tak keluar. Aku berusaha sekuat tenaga menendang pintu dengan kaki kananku yang tak ada rasa nyeri.

DANG! Dang! Dang! Dang!

Kutendang empat kali tapi hanya yang pertama yang terdengar sisanya pelan sekali. Ya, paling tidak lebih kencang dari ketukan tanganku. Aku menunggu. Kurebahkan badanku ke arah pintu dan kurasa tubuhku tak sanggup lagi menopang hingga aku jatuh terduduk.

Aku melihat ke arah hutan. Langit sudah cerah, aku bisa melihat awan dan langit biru. Ternyata rumah ini memiliki taman yang indah. Aku melihat bunga-bunga yang bermekaran tetapi hanya warna kuning. Ada kupu-kupu dan burung-burung lalu semua gelap.

Oh tidak! Kurasa penyihir itu berhasil mengangkapku lagi dan memasukan aku ke dalam hutan yang gelap. Aku sudah lelah berjalan sejauh itu dan kembali semudah itu. Penyihir sialan!

Aku bisa melihat penyihir itu sekarang. Dia menggunakan tongkat, topinya lebar dan pakaiannya serba hitam. Dia membawa mangkuk besar yang aku pikir pasti ramuan, dia mau meracuniku. Aku harus kabur tapi kakiku tak bisa bergerak. Ah pasti dia sudah menyihir kakiku menjadi batu. Dia makin mendekat. Eh? Laki-laki?

Laki-laki itu sepertinya tersenyum dan setelah kubuka lebar-lebar mataku ini ternyata aku tidak berada di hutan melainkan berada di dalam rumah. Mungkin, laki-laki ini menolongku. Dia menyuruhku bangun dan memakan sup yang dibawanya itu. 

Sup itu mengeluarkan aroma yang sangat menggoda. Aku tak memakan sup itu tapi kuminum langsung dengan mangkuknya bahkan lidahku tak protes dengan panasnya sup itu. Entah apa yang terjadi di dalam hutan tapi lidahku tampak tak merasakan panas.

Aku menatap mata laki-laki itu. Tersenyum lalu berdiri. Aku harus pergi karena penyihir atau apapun itu pasti sedang mengejarku. Aku memegang tangannya dan mengajaknya keluar. Aku menunjuk ke arah hutan dan dia mengangguk. Kami masih berpengangan tangan dan berjalan beberapa langkah lalu seketika rumah itu terbakar dan laki-laki itu hilang. 

Aku melihat cahaya merah yang indah dan hangat. Aku tak berusaha mencari laki-laki itu karena tahu semua yang bersamaku akan diambil oleh apapun itu yang ada di hutan. 

Hujan turun selahi aku menikmati api. Api itu seketika hilang dan awan hitam juga hilang. Aku melihat pelangi dan awan putih. Aku melihat laki-laki itu terbang ke awan. Dia tidak sedih tapi aku yang sedih. Aku tahu dia akan pergi bersama awan tapi..tapi..

Ah, entahlah. Aku tak tahu lagi rasanya sedih. Seharusnya aku sedih tapi aku tak menangis dan hatiku juga tak sakit. Aku pikir aku bahagia, tapi aku tak tersenyum dan hatiku tak berdebar. Laki-laki itu pergi, ya begitu saja. Aku harus berjalan sendiri di hutan, ya begitu saja.

Tidak ada komentar: