Jumat, 23 September 2011

Nilai tanpa Nilai

Saya punya cerita yang sudah terlalu lama dan sampai sekarang belum juga beres dan mulai sangat-sangat mengesalkan untuk saya.

Jadi begini, saya ikut mata kuliah seminar semester lalu. Jujur, awalnya saya males banget ikut mata kuliah ini tapi lama-lama saya malah ketagihan. Soalnya mata kuliah ini lebih aktif, lebih sering presentasi dan menurut saya itu lebih seru.

Jadi, tugas utama mata kuliah ini adalah presentasi, moderator dan pembahas. Saya melakukan itu semua, saya adalah orang pertama yang presentasi lalu saya melakukan moderator dua kali karena menggantikan yang tidak masuk.

Selesai mata kuliah ini setiap mahasiswa wajib mengumpulkan revisi. Saya sudah melakukannya tepat waktu dan menurut saya dengan hasil yang memuaskan. Saya kaget ketika nilai yang keluar "E", itu adalah sebuah ketidakmungkinan dalam hal ini.

Saya langsung menghubungi dosen mata kuliah tersebut. Ternyata revisi saya tidak diterima, entah revisi saya hilang atau keselip dimana. Akhirnya saya mengumpulkan lagi dan menunggu lagi sampai hasilnya keluar. Ternyata memakan waktu cukup lama.

Sekitar bulan maret baru saya kembali ke kampus lagi untuk melihat nilai. Saya cek ke jurusan sekalian bertanya tentang SK dosen pembimbing, normalnya jika SK itu keluar maka nilai saya sudah tidak mungkin "E".

Dan ternyata SK saya sudah keluar dan saya sudah mendapat dua dosen pembimbing untuk melanjutkan skirpsi saya karena BAB I saya sudah disetujui. Saya sudah tak cemas mengenai nilai, saya jarang ke kampus lagi karena mulai fokus mengerjakan skripsi.

Sekitar bulan Agustus saya kembali ke kampus untuk perwalian, seperti biasa diperlukan transkrip nilai. Saya kaget ketika melihat nilai seminar saya masih saja "E". Saya langsung mencari dosen saya dan bertanya apa yang terjadi.

Kejadian yang sudah beberapa bulan yang lalu ini, dengan kemungkinan besar sudah lupa dan ternyata benar. Lalu saya dianjurkan untuk mengumpulkan lagi revisi saya dan membuat surat pernyataan perubahan nilai. Sesegera mungkin saya kerjakan ternyata ketika besoknya saya ingin memberikan surat, dosen saya itu selalu tidak ada. Dan kejadian ini sudah beberapa hari sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang karena seudah dekat dengan hari raya Idul Fitri.

Saya baru kembali ke kampus hari senin kemarin, karena beberapa yang terjadi di rumah setelah lebaran. Saya ke kampus meminta tanda tangan tapi ternyata surat saya salah dan tentu saya harus menggantinya. Keesokan hari saya kesana lagi dan menunggu dosen yang bersangkutan mengajar di kelas.

Sekitar jam tiga lewat saya dapat tanda tangan tapi tidak mungkin menyerahkan surat ke SBA untuk diganti jadi saya putuskan besok lagi. Ya, besoknya yaitu hari Rabu.

Rabu siang saya ke SBA bermaksud memberi surat, lalu saya diarahkan ke ibu-ibu yang bertugas mengurus nilai. Dia bertanya macem-macem kenapa baru diurus segala macem dan saya menjelaskan tapi saya yakin dia tak mendengarkan saya.

Akhirnya nilai saya masih belum berubah, saya harus mencari KRS yang berisi mata kuliah seminar. Ketika saya minta arsip yang ada di SBA ibu itu tak mau memberi, oh iya pasti sibuk ya dan katanya KRS saya tidak penting buat dia. Oh pasti, tentu saja.

Permintaan tolong saya kepada ibu itu tentu tak di dengar, entah memang sibuk atau menganggap dirinya penting karena mengatakan itu sambil tersenyum sinis di depan muka saya. Tanpa ada niatan untuk menolong sedikitpun.

Saya memang tak memberi materi atau tak ada sesuatu yang bisa diberi tapi bukankah itu sudah menjadi tugas atau sekedar gunakanlah hati untuk menolong dengan ikhlas. Ya, kata-kata saya emang lebay tapi saya enggak punya kata lain selain itu karena nilai ini sudah sangat memuakkan untuk saya dan diujung pangkal masalah ini bukan salah saya. Saya kesal dan saya muak.

Jadi inget kata-kata di film "The Tree of Life", orang baik juga dapet kemalangan yang kadang lebih sering keliatan enggak adil. Ya, di persoalan nilai ini saya adalah orang baik karena saya sama sekali enggak menuntut jurusan yang menghilangkan revisi saya atau marah ke dosen yang lupa mengganti nilai saya bahkan malah saya yang mengurus semua.

Semoga masalah nilai ini beres sebelum saya benar-benar tidak peduli.

Selasa, 13 September 2011

Tolong

Padahal badan saya udah ngantuk lalu kenapa saya curhat?
Jadi, entah kenapa saya ini lagi lemes tapi pengen banget nulis. Ada beberapa kalimat yang sudah saya ulang dua kali ketika ngobrol sama teman saya.

Dulu, saya punya teman dekat. Dia cerita. Ceritanya pendek tapi bagus deh, dia lagi bertanya-tanya. Kenapa ya kita harus berdoa padahal Tuhan tau semua yang kita rasain. Lalu dia bertanya, saya agak lupa kepada siapa yang jelas lebih tua dari dia. Pertanyaan yang diatas itu.

Jawabannya begini : "Tuhan tahu semua yang kita rasakan tapi Tuhan mau kita berdoa, supaya bisa tahu apa yang kita butuhkan. Dan doa itu sarana kita berhubungan sama Tuhan."

Simpel dan keren. Seperti saya. Saya lupa persis kalimatnya gimana, ya kurang lebih begitu.

Tuhan aja yang tahu semua yang kita rasain mau kita berdoa, supaya ngobrol atau berbagi. Apalagi sesama manusia, orangtua, saudara, teman atau pasangan. Mungkin kita tau apa yang dirasakan orang terdekat tapi kita tidak tahu mau membantu dibagian mana kalau tak ada perbincangan.

Sekedar butuh ngobrol, didengarkan, solusi atau mungkin bantuan fisik dan mungkin juga materi.

Manusia kan makhluk sosial, tak ada salahnya meminta tolong. Tentu dengan cara yang baik, saya pikir manusia itu senang ko membantu. Itu suatu kepuasan yang tak ternilai. Ya, sama-sama tau diri aja batas-batas hubungannya sampai dimana.

Meminta tolong itu kadang bukan menurunkan gengsi tapi bisa jadi menghargai kehadiran orang terdekat.

Ah, sotoy! Tapi bener loh!

Minggu, 11 September 2011

Pasangan Ideal

"Kadang, semuanya sudah berjalan begitu manis dan indah, sampai salah satu berkata.. 'Aku mencintaimu'."  

Tadi pagi saya lagi buka Twitter lalu saya baca kalimat itu. Saya langsung ketawa sendiri dan tidak menyangkal sama sekali.

Saya ketawa bukan karena menyangkal dari si kata sakral itu, tapi menurut saya itu kata yang memang mengerikan untuk diucapkan dan terlalu berat bebannya.

Enggak tau apa hubungannya, tapi kemarin teman-teman saya mungkin sedikit memaksa saya untuk punya pasangan. Masa depan yang jauh-jauh disana. Ya, saya tahu keputusan saya hari ini akan mempengaruhi masa depan saya tapi saya tidak suka bentuk apapun dari kata "paksa".

Saya masih normal, tertarik dengan laki-laki, ada pikiran untuk punya pasangan, menikah dan punya anak. Tapi saya santai, santai banget atau lebih tepatnya saya percaya dengan Tuhan saya tentang masalah jodoh itu.

Saya itu males pacaran, males ribet, males berantem, males bosen dan enggak tau deh pokonya males. Oh iya saya males ternyata saya berbagi dengan orang yang salah. Mungkin lebih tepatnya belom ada laki-laki yang -paling enggak- keliatan bisa dipercaya.

Jadi bukan saya enggak mau punya pasangan atau nikah dan embel-embelnya tapi saya menunggu yang mau nerima semua kejelekan saya sembari saya meperbaiki diri, ya yang boleh merasakan kebaikan saya cuma yang mau nerima kejelekan saya dong.

Saya pikir enggak ada gunanya saya berubah karena orang lain yang enggak punya tujuan jelas sama saya, nunggu saya udah baik dulu baru mau, seenak jidat ye.

Lebih baik kan kalau kita bisa belajar sama-sama nerima yang baik dan yang jelek. Lalu, mungkin kata "Aku mencintaimu" bukan hanya sekedar kata lagi..

Jumat, 09 September 2011

(Mau) Mengerti dan Menerima

Jadi, tadi saya ketemu temen SMA tanpa sengaja dan jadi ngobrol panjang lebar. Seru! Setiap ketemu temen lama pasti jadi seger.

Biasalah selalu pembukaan yang enggak penting. Pulangnya saya nonton televisi, kebetulan enggak ada yang bagus. Jadi, satu-satunya yang bisa ditonton cuma Glee dan enggak tau itu episode berapa dan ceritanya apa karena udah setengah mulai juga. Saya nonton sambil ganti-ganti sama Big Brother.

Lalu, tanpa saya kira dan duga. Muncullah sebuah kalimat yang dasyat yang kira-kira begini, "tugas kamu jadi apa adanya dan tugas aku nerima kamu apa adanya". Jeng jeng! Saya langsung diem dan mikir.

Oh iya, itu sebenernya kalimat dari bapak ke anak loh bukan kalimat romantis. TAPI, kalimat itu menurut saya semestinya diterapin ke semua hubungan dan kalo berhasil jadinya oke banget.

Ya, enggak baik kan maksa orang buat jadi seperti apa yang kita mau. Mungkin baik menurut kita tapi belum tentu baik buat dia atau memang itu mungkin baik tapi ya pelan-pelan jangan dimarahin atau dipaksa karena menuhin ekspektasi orang lain itu berat.

Jadi apa adanya itu susah loh. Menghargai diri sendiri, percaya sama diri sendiri dan cinta sama diri sendiri, itu menurut saya kadang susah karena dibebanin harus menuhin ekspektasi orang lain.  Mari kita lagi-lagi saling menghargai keputusan orang lain, paling enggak saya nyoba untuk mau ngerti dulu sampe akhirnya semoga bisa nerima apa adanya.