Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2020

Ayah


Aku tak pernah mengenal sosok Ayah dalam hidupku. Aku dibesarkan oleh ibuku dengan cara yang dia tahu yang hampir tidak ada waktu untuk mendidikku dan adik-adikku. Ibu hanya sibuk mencari uang dan selalu pulang malam, itu mungkin bentuk kasih sayang dari orang tua, hanya itu yang aku tahu.
Ibu selalu terlihat lelah setiap harinya dan sering melampiaskan amarahnya kepada kami apalagi kalau kami bertanya tentang Ayah. Kami tak pernah tahu siapa Ayah kami dan Ibu selalu menghindari percakapan ini. Bertahun-tahun aku hidup seperti ini. Aku sering mencari perhatian Ibuku dengan cara membolos sekolah atau menggunakan uang sekolah untuk membeli rokok.
Aku sudah mulai merokok ketika masih menjadi pelajar SMP, ketika aku tak takut apapun. Ibuku berkali-kali memarahiku ketika aku kedapatan merokok padahal dia juga melakukan hal yang sama. Aku senang jika Ibuku memarahiku karena dalam benakku aku mendapatkan perhatian darinya.
Ibu juga ringan tangan, beberapa kali wajahku memerah karena tamparan dari Ibu, belum lagi bekas cubitan keras di perutku dan bekas sundutan rokok di tangan atau kakiku. Semakin sering aku disiksa oleh ibuku maka aku semakin senang. Senang dengan perhatian yang diberikan oleh ibu.
Sekarang aku sudah mempunyai keluarga sendiri, aku memiliki tiga anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Mereka berumur 15, 17 dan 19 tahun. Ibunya pergi dari rumah kira-kira lima tahun lalu. Entah apa penyebabnya aku tak tahu, padahal aku selalu memberikan perhatian yang sama seperti Ibuku berikan kepadaku. Aku memberinya uang untuk kehidupan sehari-hari dan aku juga sering memukulnya jika rumah berantakan atau kadang tak ada alasan, hanya untuk memberinya perhatian.
Anak-anakku juga kuberi perhatian yang sama. Mereka telah terbiasa dengan perhatian yang aku berikan. Mereka semua anak pendiam dan penurut tak pernah sekalipun mereka membantah dalam hal apapun.
“Mia..sayang..tolong ambilkan Ayah air, Nak.” ucapku setengah berteriak dari dalam kamar. Aku mendengar suara langkah kaki dari anak pertamaku. Aku menunggunya sambil menonton televisi di kamar. Mia kemudian masuk dan menaruh gelas di atas meja di dekar kasur. Ketika dia hendak keluar kamar aku memanggilnya kembali.
“Mia, sayang, duduk dulu sini temani Ayah nonton..kan Ayah kangen ingin peluk Mia.”. Mia tak menjawab, dia menunduk sambil berjalan pelan kearahku. Dia duduk di sisi kanan kasur sambil melihat ke arah televisi.
“Mia, sini sini, peluk Ayah. Jangan malu kan sudah biasa.” lanjutku sambil menarik tangannya, aku memeluknya sambil memegang dadanya yang sudah ranum.
Aku memperlakukan hal yang sama kepada ketiga anakku semenjak istriku pergi. Aku tidak tahu cara lain untuk memuaskan hasratku selain kepada anak-anakku. Aku tidak ingin membayar pelacur untuk hal ini karena aku tahu ini adalah juga bentuk kasih sayang, seperti yang aku lakukan kepada istriku atau seperti yang ibuku lakukan kepadaku.
Anak-anakku tidak pernah ada yang melawan ketika aku melakukan hal ini, pasti mereka tahu kalau ini adalah bentuk kasih sayangku kepada mereka atau mereka tahu ini adalah bentuk balas budi mereka sebagai anak. Aku yang menjaga dan memberi mereka makan dari kecil dan tak pernah berhenti memberi mereka kasih sayang, tidak seperti ibunya yang pergi begitu saja.
Aku tak mengerti kenapa istriku sampai gantung diri setelah semua hal aku berikan kepadanya. Dia hanya meninggalkan pesan meminta maaf kepada anak-anaknya tapi tidak sedikitpun pesan untukku, sungguh egois.
Aku tidak bisa melupakan istriku dan anak-anakku mengingatkanku pada istriku, itu juga alasan kenapa aku tak pernah memakai jasa pelacur. Istriku adalah ibu yang baik, dia memberikan perhatian yang beda kepada anak-anak, seperti memasak atau sekedar berbincang dengan mereka kadang aku ingin seperti itu tapi aku tidak bisa, yang aku tahu itu bukan bentuk perhatian.
Anak-anakku masih sering menangis jika tiba-tiba ada pembicaraan tentang ibu di meja makan. Jujur, akupun masih sering menangis jika mengingat istriku tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Yang aku tahu aku harus hidup demi menghidupi tiga anakku.
Anak-anakku tidak pernah ada yang mencari perhatian dariku, mungkin karena mereka sudah mendapatkannya lebih dari cukup. Tidak ada yang mencuri uang, bolos sekolah, pacaran, merokok atau minum-minuman keras. Mereka semua anak yang manis dan aku sangat sayang kepada mereka.
“Santi, sayang..Gimana hasil ulanganmu kemarin?” ucapku sambil mengajak anak keduaku duduk di sofa coklat yang berada di ruang tengah.
“Bagus, Ayah. Nilaiku tidak ada yang jelek.” jawabnya sambil menunduk. Aku mengusap-usap kepalanya sambil tersenyum bangga.
“Di sekolah gimana? Nanti kamu mau kuliah di mana?” tanyaku sambil berusaha menatap matanya yang menghindariku.
“Aku hmm..katanya bisa kuliah di Kedokteran, aku mau kuliah di Bandung boleh tidak, Ayah? Aku mau belajar hidup sendiri.” Jawabnya pelan sambil terbata-bata.
Tiba-tiba emosiku memuncak. Aku mengguncang pundaknya. “APA? Kamu mau belajar hidup sendiri?! Kamu mau tinggalin Ayah ya? Seperti ibumu?”
Badan Santi terpental ke samping sofa dan aku menarik tangannya keras sambil menampar pipinya. “SADAR! Siapa yang mau biayai kamu kuliah kalo bukan Ayah, berani-beraninya kamu mau pergi tinggalin Ayah!”.
“Maaf Ayah..Maaf..Maaf..Santi..tidak..Maaf..” ucap Santi sambil menangis tersedu. Aku masih belum bisa memaafkannya dan berusaha memukulnya lagi. Mia dan Hesti, anak ketiga ku, keluar dari kamar mencoba membantu Santi berdiri dengan muka ketakutan.
“JANGAN DIBANTU!! Itu akibat dari Santi ingin meninggalkan Ayah, jangan ada yang berani pergi dari rumah ini!” ucapku lantang.
Mereka berpelukan dengan badan gemetar tapi itu juga tidak meredakan amarahku. Aku malah semakin marah karena mereka saling menolong satu sama lain, seakan mereka membantah kata-kataku. Aku mengambil pisau di dapur dan mengacungkan kepada mereka.
“Kalau ada yang berani pergi, Ayah bunuh diri. Kalian tidak akan bisa bertahan hidup diluar sana tanpa bantuan Ayah.” ancamku.
Aku meninggalkan mereka di ruang tengah, aku mengambil botol bir dari kulkas dan masuk ke kamar. Aku menyalakan rokok sambil berusaha menenangkan diri. Aku tak habis pikir kenapa bisa-bisanya anakku ingin meninggalkan Ayahnya yang sudah rela banyak berkorban untuk kehidupan mereka sedari kecil.
Pikiranku kacau, ingatan masa kecilku kembali, ingatan ketika Ayahku pergi juga tentang semua perlakuan ibuku. Aku tidak bisa begini, hatiku terasa berat karena anakku ingin mengabaikanku seperti istriku yang juga pergi begitu saja. Aku merasa tidak menjadi Ayah yang baik karena anakku ingin meninggalkanku.
Semua ingatan itu kembali sampai aku akhirnya terlelap.
Aku tak pernah semarah ini kepada anakku, sudah berminggu-minggu aku masih tidak ingin berbicara kepada Santi. Aku juga tidak memberinya uang jajan seperti biasanya. Ini semacam hukuman untuknya karena berpikir untuk pergi dari rumah.
Hari itu tidak seperti biasanya, semua anak-anakku menyambutku ketika aku pulang kerja. Mereka menyiapkan makan malam yang mereka masak sendiri, Hesti memijat pundakku setelah aku selesai makan. Santi juga meminta maaf dan berkata kalau dia tidak akan pergi ke Bandung, dia akan kuliah di Jakarta karena mendapatkan beasiswa.
Hari itu rasanya aku bahagia yang tidak bisa kuungkapkan, hatiku hangat dan hal inilah yang selama ini aku idam-idamkan. Selama ini hanya aku yang selalu memanggil mereka, mengajak mereka berbincang atau memberi uang kepada mereka. Aku juga ingin diberi kasih sayang oleh mereka walau ini adalah kasih sayang yang baru aku tahu.
Mereka sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Aku segera menuju ke kamar dan bersiap untuk tidur dengan perasaan gembira. Tiba-tiba satu persatu anak-anaku masuk ke kamar, katanya mereka ingin tidur denganku seperti waktu kecil. Aku menyambut mereka dengan suka hati.
“Ayah..maaf kalau selama ini kami sudah merepotkan..Kami tidak tahu bagaimana caranya membalas budi tapi hanya ini yang kami inginkan.” kata Mia sambil berbisik.
“Maafkan kami tapi lebih baik Ayah yang pergi..” kata Santi. Aku yang sudah setengah tidur tiba-tiba merasakan sakit di perutku. Aku memegang perutku dan merasakan cairan hangat. Aku melihat tanganku berwarna merah gelap.
Mereka..mereka membunuhku. Aku merasakan satu tusukan lagi dan lagi. Aku hampir hilang kesadaran dan semua ingatanku kembali. Aku merasa aku sudah menjadi ayah yang baik tapi mengapa aku yang harus pergi. Apakah selama ini aku salah? Tapi itulah yang aku tahu dari ibuku. Mungkinkah ibuku yang salah? Atau anak-anakku yang salah? Aku tidak tahu, yang aku tahu sebentar lagi aku akan mati dan aku merasa sedih karena aku adalah ayah yang baik yang dibunuh oleh anakku sendiri.

Selasa, 08 Agustus 2017

Belajar Menengah Pertama #1

Akhirnya aku memulai kehidupan baru dengan teman-teman baru dan cerita baru.

Sesungguhnya waktu itu kerengganggan hubunganku dengan Eric tidak memengaruhi apapun dalam hidupku. Aku menjalani hari-hari di SMP seperti layaknya anak baru, kenalan dengan teman-teman sekelas dan kadang masih suka bingung karena setiap jam bel berbunyi untuk ganti guru.

Aku termasuk anak yang pemalu yang di awal susah untuk berteman dengan orang baru, di awal masuk sekolah banyak kuhabiskan dengan diam. Aku juga bukan tipe orang yang pandai menjaga teman yang hampir tidak pernah menghubungi teman yang jarang bertemu.

Kelas satu di SMP banyak kuhabiskan dengan belajar karena tidak tahu caranya berteman. Untungnya teman sebangku yang dipilihkan waktu ospek itu adalah seorang laki-laki yang banyak omong jadi di kelas rasanya tidak terlalu membosankan.

Namanya Galang, rumahnya dekat dengan sekolah dan merupakan anak yang aktif bermain di sekolah; Aku jadi kenal dengan teman lain karena Galang. Aku juga bukan tipe yang bisa menolak dengan mudah maka ketika Galang mengajakku untuk masuk ke eksul PMR aku juga tidak menolak.

Disanalah mulai terjadi kisah cinta monyet jaman SMP yang menggemaskan. Ekskul biasanya dilakukan setiap hari sabtu dan semua murid yang aktif muncul. 

Dulu kupikir kalau ikut ekskul PMR hanya diajarkan obat-obatan dan cara mengobati luka tapi aku salah ternyata diajarkan juga baris-berbaris, cara membuat tenda, belajar membuat simpul, pengenalan alam, belajar masak dan juga kerjasama tim. 

Hari pertama ekskul kami diajarkan untuk membuat tandu darurat dan kami dikumpulkan menjadi lima tim yang berisi enam orang. Sayangnya aku tidak satu tim dengan Galang dan membuatku menjadi diam saja karena tidak ada yang kukenal tapi ternyata di dalam timku ada temannya Galang yang bernama Amran. 

"Woi Amran, itu temen sebangku gue si Kiana diajak ngobrol ya, kasian", tiba-tiba Galang teriak.

Aku kaget sembari menatap Galang lalu sepintas kulihat Amran mengangguk, lalu tidak lama setelah itu ketika kami diberi tugas untuk belajar membuat simpul Amran menghampiriku.

"Kia, bisa gak bikin simpulnya?"

Aku diam karena kaget lalu tak lama kujawab sambil takut-takut.

"Eh ini, bisa sih, ngikutin gambarnya aja", kataku.

"Wah kayanya elo lebih jago. Ajarin dong, Ki."

"Ah enggak, cuma ngikutin ini aja untuk simpul di awal tandunya"

"Oh gitu ya. Eh Ki, gimana rasanya duduk bareng sama Galang?"

"Hah? Ya gitu seru sih karena dia lucu dan setiap hari ada aja ceritanya. Dulu satu SD sama Galang ya?"

"Iya, dia dari dulu bawel banget kita jadi paling terkenal waktu SD. Gue sih karena kebawa jadi temennya Galang aja. Pengen sekelas lagi tapi ya gapapa sih jadi punya temen baru"

"Ha iya Galang bawel tapi seru kok temenan sama dia."

Ketika kita lagi asik ngobrol tiba-tiba aku mendengar teriakan yang enggak asing lagi.

"WOY! SERU AMAT!" 

Galang sudah berada diantara kami dan ikutan belajar bikin simpul pindah dari timnya. Lalu kami asik ngobrol bertiga sampai ditegur oleh Kak Geri karena Galang terlalu berisik. 

"Galang, kok kamu disana? Balik ke timnya cepet!", kata Kak Geri.

"Kakak gue kalo di sekolah suka sok ganteng.", kata Galang berbisik kepada kami.

"Heh Galang cepet sana balik ke tim, bukan malah ngobrol terus."

"IYA KAK! SIAP!"

Galang kembali ke timnya sambil tertawa cekikikan dan kembali meninggalkan kami berdua. Kami melanjutkan membuat tandu sambil ngobrol pelan-pelan karena takut ditegor lagi. Setelah itu kakak-kakak PMR memberi kode untuk berhenti membuat dan untuk mencoba tandu yang kami buat.

"Oke. Cukup ya bikinnya. Kakak cek dulu, setelah selesai kakak cek nanti kalian buka lagi dan kakak kasih waktu 10 menit untuk membuat tandu. Siapa tim yang paling awal selesai dan tandunya bisa dipakai akan dapat hadiah.", kata Kak Geri setengah berteriak.

Kakak-kakak PMR mengecek tandu kami satu persatu dan memberi tahu jika ada simpul yang tidak pas. Setelah itu kami disuruh untuk membuka tandu yang sudah tersimpul rapih.

"Yak! Sekarang kakak beri waktu 10 menit untuk membuat tandu. Mulai dari sekarang!"

Setiap tim terlihat bersemangat untuk membuat tandu. Aku dan Amran membuat simpul di bagian ujung dan di ujung satu lagi teman satu timku yang membuat lalu dua lagi menjadi tim bantuan untuk mengencangkan simpulnya, kami berbagi tugas sesuai petunjuk dari Amran. 

Aku suka sekali melakukan ini, berkompetisi dengan yang lain, detak jantungku terasa cepat dan aku panik tapi juga senang. Wuah rasanya deg-degan tapi seru. Aku enggak nyangka kalau aku akan sesenang ini ikut PMR. 

"OKE! 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1.. TANGANNYA DILEPAS SEMUA!", teriak Kak Geri.

"Sekarang waktunya di tes siapa yang mau jadi perwakilan untuk mencoba tandunya?", lanjut Kak Geri.

"SAYA KAK!!", tak lain dan tak bukan itu Galang yang teriak dengan kencang.

Kak Geri tertawa sambil geleng-geleng melihat kelakuan adiknya. Galang maju ke depan tanpa di suruh dan langsung siap sedia untuk mencoba tandu-tandu yang kami buat. Aku deg-degan sampai sebelum giliranku dipanggil. Takut ada yang salah dan juga takut si Galang jatuh karena ikatannya kurang kencang.

"Tim terakhir ayo maju bawa tandunya", kata kak Geri.

"Amran sama Kiana aja yang maju. Sini-sini cepet.", lanjut Galang.

"Ayo Ki, udah disebut nama lo tuh. Gak ada pilihan lain.", kata Amran sambil mengangkat tandu.

"Kiana, pelan-pelan ya angkat guenya. Gue curiga nih sama tandu yang ini banyakan ngobrol pasti gak kuat." kata Galang sambil tertawa.

"Eurgh iya bawel", kataku sambil nyengir.

Rugi aku sudah khawatir Galang bakalan jatuh, denger dia bilang begitu rasanya ingin kulonggarkan simpulnya dan membiarkan dia jatuh tapi sayangnya simpul yang kami buat terlalu rapi sehingga ketika kami goyang-goyangkan Galang tidak juga jatuh.

Setelah selesai mencoba semua tandu kakak-kakak PMR mengumpulkan kami semua di dalam kelas memberikan penjelasan tentang kenapa kami harus belajar simpul dan membuat tandu. Selesai memberi penjelasan Kak Geri masuk ke dalam kelas.

"Nah, sekarang yang ditunggu-tunggu untuk pemenang pembuatan tandu. Pasti kalian gak sabar kan untuk tau siapa pemenangnya?", kata Kak Geri.

"Iyaaa kaaaak..", kami menjawab dengan menggebu-gebu.

"PEMENANGNYA ADALAH TIM LIMA!!!! YANG KETUANYA AMRAN!!!"

Aku dan Amran saling pandang. Wah, aku enggak nyangka bakalan menang tapi memang dari semua tandu yang dicoba tandu kami yang paling rapih dan kuat. Aku senang sekali dan kami satu tim berkumpul dan "tos" satu sama lain dengan perasaan gembira.

"HADIAHNYA ADALAH TEPUK TANGAN YANG MERIAH", teriak Kak Geri. 

Kami diam dan kemudia tertawa. Entahhlah aku senang sekali karena menang dan rasanya hadiah tepuk tangan sudah cukup membuatku senang dan tak mengurangi kesenangan yang kudapatkan. 

Kamipun diijinkan pulang karena ekskul sudah selesai. Aku berjalan sendiri menuju pintu gerbang sekolah. Ketika itu Galang menghampiriku sambil berlari dan disusul oleh Amran dibelakangnya.

"Payah ya kakak gue, Ki. Masa hadiahnya tepuk tangan sih"

"Hahahaha iya kirain apaan ya, tapi tepuk tangan aja udah bikin seneng Lang. Soalnya gue menang dan elo kalah."

"Sialan lo, Ki. Itu mah menang karena lo satu tim sama Amran. Dia dari dulu anaknya teliti jadi gue yakin karena simpulnya Amran bukan elo."

"Ah dasar elo mah emang gak mau kalah ya Lang sama gue."

"Amran buruan sih jalannya. Biar bareng sama Kiana sini, lelet banget sih."

"Biarin sih Lang, itu si Amran juga lagi jalan kesini."

"Hahaha dia malu kali Ki jalan bareng sama elo soalnya elo dekil." 

"Dih dasar nyebelin lo, gue dekil juga wangi tau. Udah lah gue duluan tuh angkot gue udah di depan sekolah."

Aku berlari mengejar angkot yang berhenti di depan sekolah. Lalu duduk di belakang Pak supir yang mengahap ke jalan. Begitu duduk aku melihat Galang dan Amran berjalan menuju kearahku. Sialnya angkotnya malah ngetem, mungkin supirnya menyangka kalau mereka akan naik angkot ini makanya dia berhenti.

"Kianaaaaaaa!!!! Ngapain lari-lari..itu angkotnya nungguin juga", Galang tertawa keras.

Aku diam saja karena malu sambil berharap kalau supirnya pergi. Sekilas kulihat Amran tersenyum kepadaku.

"DAH KIANA!!! HATI-HATI PAK BAWA ANAK DEKIL!", teriak Gilang.

Menyadari mereka tidak naik angkot maka Pak supirnya pun segera menancap gas membawa angkot ugal-ugalan sampai aku tiba di depan komplek rumah.

....

Hari senin masuk sekolah seperti biasanya tapi rasanya hari itu ngantuk sekali karena bangun terlalu pagi. Takut terlambat jadi datang lebih pagi dan tidur lagi di dalam kelas. Baru enak-enak tidur tiba-tiba ada yang mengacak-acak rambutku. 

"Tidur mah di rumah aja, Ki!"

Ternyata Galang hari itu juga datang lebih pagi. Dia duduk setelah menaruh tasnya di atas meja. Masih terus mengacak-ngacak rambutku yang pendek. 

"Kianaaaaaaaa!!! Bangun doong!!!"

Aku menghela napas dan akhirnya mau tak mau jadi bangun. Aku duduk sambil menatap kesal di Galang yang nyengir-nyengir sambil melambai keluar.

"Amran sini!!! Gangguin si Kiana tidur nih", kata Galang.

"Galaang. Aduh malu tau rambut gue berantakan nih!"

"Yaelah Ki sama gue aja malu. Gue mah gak peduli lo dekil juga"

"Bukan malu sama elo tapi sama Amran itu ih."

Galang tertawa keras.

"Amraaaaaan cepetan masuk! Si Kiana masa malu sama elo. Cieeee... aduh duh!".

Galang meringis karena aku mencubit perutnya, sudah rambutku berantakan ditambah malu lagi dengan teriakan cie itu. Aduh emang anak itu suka seenaknya aja. Heran.

"Hai Ki. Capek ya duduk bareng Galang?", Amran langsung nyeletuk.

"Iya nih. Setiap hari ada aja kelakuannya. Pasti lo lebih capek dari SD bareng dia."

"Banget. Tapi kalo ada Galang jadi lucu." 

"Kan Ki, lo harusnya bersyukur waktu ospek dateng terlambat jadinya bisa duduk bareng gue", sambut Galang.

"Hhhh iya bawel. Gue mau ke kantin dulu lah. Mau beli bakwan laper belom sarapan."

"Mar, ayok ikut!", kata Galang tanpa persetujuanku.

....

Di kelas ketika pergantian guru biasanya kami suka ngobrol ini itu dan bercanda dengan teman yang lain. Karena hari itu rasanya ngantuk aku inginnya tiduran saja, membiarkan kepalaku menikmati indahnya meja kelas untuk tidur tapi Galang berkata lain.

"Ki, yah jangan tidur mulu lah."

Aku tau kalau aku diam dia akan segera menyerangku dengan mengacak-acak rambutku.

"Iya gue bangun, kenapa sih gak bisa banget ngebiarin gue tenang?"

"Wah kalo itu sih susah, Ki."

"Kia, Si Amran baek ya anaknya?"

"Hah? iya.. baik sih. kenapa?"

"Yaaa nanya doang Ki. Kok lo malu gitu sih jawabnya?" 

"CIEEEEEEEE"

Tiba-tiba Galang teriak yang membuat hampir sekelas melihat kami. Mukaku sudah dipastikan merah karena malu dengan kelakukan Galang. Aku cubit lagi perutnya supaya dia diam.

"Aduh Ki, iya Ki, ampun, iya iya gue diem"

"Ih kenapa mesti teriak sih kan gue malu.", kataku berbisik.

"Lagian elo, kan gue cuma nanya gitu doang pake malu segala."

"Hah? Enggak. Gue gak malu."

"Kia, lo tuh pendiem makanya kalo lo ganti gaya jadi ketauan. Makanya lo jangan banyak gaya kalo malu"

"Udah ah diem deh, Lang."

"Cie Kia, lo suka ya sama Amran?"

"Hah?! Apaan sih?! Enggak ah biasa aja."

"Suka juga gapapa kali, Ki. Si Amran abis PMR satu tim sama elo kerjaannya ngomongin elo mulu. Suka dia, Ki sama elo."

"Masa iya, Lang?"

"Hahahahahha tuh kan emang bener lo suka juga kan?"

"Enggaaaaak. Gue gak suka."

"Yah kasian si Amran kalo elo enggak suka ya."

"Eh siapa bilang gue gak suka?"

"Lah elo Ki yang bilang. Jadi lo suka nih?"

"Ah. Gak tau ah! Berisik lo, Lang."

Untungnya percakapan itu diselamatkan oleh Bu Eni yang sudah siap mengajar di kelas. Di SMP inilah aku mengenal istilah guru killer. Bukan guru pembunuh tapi guru yang galaknya minta ampun yang lebih baik enggak usah cari masalah. Kalo bu Eni masuk kelas maka seketika kelas hening bahkan Galang yang bawel juga diam.

.....

Sekarang aku jadi menunggu-nunggu waktu ekskul karena aku bisa bermain dengan bebas dengan Galang dan juga bisa main dengan Amran. Kami jadi sering bermain bertiga karena Galang setiap waktu mengajak Amran untuk bergabung dan disitulah aku sudah senang bertemu Amran.

Jaman dulu masih belum ngerti yang namanya pacaran. Ketertarikan sama lawan jenis itu bukan karena ganteng atau baik atau apapun tapi tertarik aja karena kalo ketemu ada perasaan gak enak di dalam hati. 

Bedalah rasanya sama mengidolakan Westlife, beda rasanya seneng ngeliat Wesslife nyanyi atau nonton video tentang keseharian mereka yang ngegemesin. Itu juga senang tapi beda rasanya sama ketemu Amran.

Rasanya kira-kira begini : Jantung berdetak kencang sampai terasa seperti habis lari, badan terasa panas seperti berdiri di tengah hari bolong, kalau senggolan itu rasanya kayak matiin lampu toilet tapi tangan masih basah, nyetrum, tapi yang paling aneh adalah sepertinya di ujung bibir ada benang yang menarik keatas. karena bawaannya ingin senyum terus.

Kalau ditanya kenapa suka juga enggak bisa jelasin sama-sekali karena enggak tahu suka itu apa. Yang aku tahu adalah perasaan waktu itu membuat senang dan hal paling menyenangkan di sekolah selain bermain dengan Galang adalah ketemu Amran. Padahal cuma ketemu aja, kadang juga enggak ngobrol.

....

Hari itu tiba-tiba Galang mengajak untuk pulang bareng. Katanya jangan naik angkot dari gerbang tapi muter-muter dulu jalan-jalan lewat depan rumahnya dia yang dekat dengan sekolah. Karena penasaran aku ingin tahu juga rumahnya Galang jadi kuiyakan permintaannya.

Ternyata bukan hanya aku yang diajak ke rumahnya hari itu, Galang juga mengajak Amran untuk main ke rumahnya. Kami berjalan bertiga keluar sekolah menyusuri jalan raya dan masuk ke dalam komplek dekat sekolah. 

"Gue duluan ya kebelet boker nanti ketemu di rumah ya, Mar", lalu Galang segera berlari.

Aku gelagapan tak sempat menjawab.

"Iya, Lang. Gue nyusul sama Kiana."

"Eh, si Galang suka seenaknya aja. Kan gue gak tau rumahnya", kataku.

"Tenang, Ki. Kan gue temen Galang dari kecil. Masa gue gak tau rumahnya."

"Ah iya, bener juga. Gue udah kepikiran mau pulang aja tadinya."

"Hahahaha Kiana kiana.."

Seketika obrolan jadi canggung karena aku memang jarang sekali ngobrol berdua dengan Amran tanpa Galang. Walau aku merasa senang tapi aku juga bingung mau ngobrol apa. Kami biasanya ngobrol kalau lagi PMR dan yang diobrolin itu lagi-itu lagi. Aku memutar otak untuk mencari bahan obrolan dan benar-benar enggak menemukan apa-apa.

"Kia, si Galang tuh kayaknya bohong."

"Hah? Bohong kenapa?"

"Iya, dia enggak kebelet tapi sengaja ninggalin elo."

"Dih. Iya kali ya, dia sih anaknya emang iseng."

"Dia ninggalin supaya gue bisa bilang kalo gue suka sama elo."

"Apa?"

Aku sebenarnya menangkap dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh Amran. Jelas tak ada gangguan tapi aku jadi kaget dan gelagapan karena ini pertama kali dalam hidupku ada cowok yang nembak enggak pake telepon. Jadi aku bingung mau bilang apa.

"Hmmm.. Ki.. Gue... gue suka sama lo, Ki."

"Apa?"

Pertanyaan kedua juga kutangkap dengan jelas tanpa halangan tapi aku masih bingung apa yang harus kujawab. Aku tak tahu perasaanku kepada Amran, aku hanya tau kalau aku senang tapi tak lebih dari itu.

"Ki, masa gak kedengeran. Gue suka sama lo!", Amran mengulang seperti agak kesal.

 "Oh. Iya. Haha..iya gimana?"

Aku panik benar-benar panik. Mukaku jelas merah dan aku hanya diam. 

"Gue...suka sama lo, Ki. Lo kira-kira suka gak?"

"Gue..hmmm.. gue.. gue gak tau.."

Aku melihat Amran sekilas, aku tak berani menatap matanya. Begitu juga Amran diantara kami tak ada yang berani saling menatap. Kami berjalan dan memandang ke arah lain.

"Ki, ini sih kalo lo mau... Tapi.... gak mau juga gapapa. Lo kira-kira mau jadi pacar gue gak?"

Aku meringis.

"Ran, hmmm..itu...gue...gak bisa jawab karena gak tau."

"Hmmmm...Lo mau pikir-pikir dulu?"

"Boleh ya pikir-pikir?"

"Iya.... boleh aja sih kalo bingung, mau jawab kapan?"

"Minggu depan boleh gak?"

"Iya boleh Ki, minggu depan nanti gue tanya lagi ya...."

Lalu kami berjalan dengan canggung, tak ada yang berani saling menatap. Kami saling buang muka tapi masih berjalan berdampingan. Kali ini tak seperti biasanya tapi suara Galang menyelamatkanku dari kecanggunggan ini.

"KIANA!!!! MAR!!! BURUAN SINI! GUE UDAH SELESAI BOKERNYA!"

Aku berlari ke arah Galang dan membiarkan Amran tetap berjalan di belakangku. Aku merasa lega melihat Galang tapi juga bingung karena aku punya PR untuk minggu depan yang harus kujawab. Aku benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

Minggu, 12 Maret 2017

Sepenggal Keputusan

Aku benci semua orang. Tak ada yang mengerti. 

Malam itu sungguh membuatku terpuruk. Keluargaku berkumpul di rumah, mereka datang hanya untuk menilaiku tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan tentang kucing tapi tentang semua orang yang menyakitiku. 

Ibuku mengetuk pintuk kamarku.

Aku sedang bermain dengan kucingku dan sudah bersiap untuk tidur. Aku berjalan dengan malas menuju pintu dan membukanya sambil menguap.

"Ayo turun, semua sudah menunggu", kata Ibuku.

Aku mengernyitkan dahi karena tak mengerti mengapa semua menunggu, dengan malas aku menjawab "Memang ada apa?"

"Sudah cepat turun", katanya lagi.

Aku membawa dua kucingku ikut turun bersamaku, sesungguhnya aku sangat malas. Dengan gontai aku menuruni tangga dan sedikit demi sedikit aku mulai melihat banyak oranng dibawah. Semua memandangku dan kucingku, pandangan begitu saja tetapi membuat perasaanku tak enak.

Aku duduk di tengah-tengah keluargaku. Benar-benar berada di tengah, mereka seakan sengaja menyediakan sebuah kursi di tengah untuk menilaiku. Suasana malam ini begitu aneh, mereka hanya saling pandang dan sedikit berbisik. Aku tak mengerti apa yang akan terjadi.

Aku duduk dan memandang semua satu persatu. Paman Izza melihatku dengan senyum kecut, Bude Ian sesekali memandang tapi lalu membuang muka seakan penuh dengan perasaan bersalah. Semua bergantiang memandang dan akhirnya Ibuku berbicara.

"Terima kasih sudah repot-repot datang ke rumah saya, seperti yang sudah diketahui hari ini saya ingin dibantu oleh keluarga untuk berbicara kepada Asa. Banyak hal yang terjadi dan saya butuh bantuan keluarga untuk menangani ini dan semoga menemukan solusi yang terbaik", kata Ibuku dengan penuh kekhawatiran sambil sesekali memandangku.

Aku tidak dapat mengeluarkan kata-kata, aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi padaku saat ini. Apakah aku membuat kesalahan? Apa yang terjadi dalam hidupku sehingga semua orang perlu datang? Pikiranku seperti kosong aku tak dapat berpikir apa-apa dan hatiku berdegup kencang, aku merasakan semua perasaan mengalir dalam darahku. Malu, kaget, marah dan bingung semua jadi satu.

"Asa, anak Ibu. Beberapa waktu ini ibu tidak tahu apa yang terjadi padamu, nak. Ibu heran, mengapa kau lebih sayang kepada kucingmu ketimbang keluargamu? Setiap hari hanya malas-malasan, mengurung diri di kamar dan bermain dengan kucing. Tak sedikitpun kau membantu untuk meringankan beban Ibu bahkan seringnya menambah beban Ibu. Bagaimana bisa kau bertahan hidup tanpa keinginan untuk bergerak, nak? Tolong bantu Ibu untuk memahami apa yang terjadi. Maaf Ibu melakukan ini tapi pembicaraan kita berdua selalu berakhir dengan keributan dan Ibu tak ingin semua itu terjadi lagi.", Ibu berkata dengan suara terbata-bata.

Dalam pikiranku tetap tak bergeming, aku malah membangun pertahanan dalam diri. Masih dengan keadaan tak menyangka kalau Ibuku tega melakukan hal ini. Seharusnya dia adalah orang yang paling mengerti dan tidak melakukan ini dan semua orang mengharapkan jawaban dariku. Aku hanya diam, kulihat mata keluargaku satu persatu. Mereka seakan menelanjangiku dengan penilaian mereka. Dasar picik!

Paman Izza tersenyum dan mengeluarkan kertas dari saku celananya, sedikit terbatuk mungkin untuk menghilangkan perasaannya yang tak enak.

"Asa, bisakah kamu jelaskan yang terjadi pada Ibumu?", kalimat paman Izza terpenggal karena aku terus melihatnya.

Entah kenapa aku tak suka dengan cara Paman Izza berkata, ada gejolak dari dalam diriku untuk segera menjawab semua pertanyaan.

"Ini apa sih? Salahku apa? Aku gak suka diperlakukan seperti ini. Apa salahku kalau aku suka dengan kucingku? Apa salahku kalau aku memanjakannya lebih daripada yang lain. Kita memang keluarga tapi tidak sedekat itu, mungkin hanya secara tak langsung ada darah yang sama yang mengalir dalam tubuh tapi tidak ada yang lebih!", aku hampir berteriak tapi kutahan.

Sesuai dengan prediksiku semua orang dalam kondisi lebih kaget daripada aku. Semua seakan tak menyangka aku akan berkata seperti itu. Semua memandangku seakan aku adalah orang yang tak tahu diri dan tak tahu berterima kasih.

"Hei, Asa! Kamu enggak pantes bilang seperti itu karena tanpa keluarga ini kamu enggak akan ada. Coba bantu Ibu dan kakakmu mengerti. Apa sih yang terjadi padamu? Setiap hari minta uang dan bahkan kamu minta uang dari anakku untuk membeli makanan kucing. Asa, umurmu sudah tidak muda lagi. Kalau begini terus tak akan ada yang mau denganmu"

Itu kakakku yang bicara seperti itu, seakan dia tak mengenalku dari kecil, seakan dia tidak tahu apa kegelisahanku, yang dipikirkan hanya dirinya sendiri dan kekuasaannya terhadapku.

"Kak Anis, aku sayang kucingku dan kalau bukan aku yang mengurus siapa lagi. Mereka selalu ada buatku, menemaniku dan tak pernah menilaiku. Itulah caraku untuk membalas budi baik mereka. Aku minta uang karena aku tak punya uang".

Lagi, semua mata tertuju kearahku sambil terheran dan tak ada yang berani berkata. Ibuku sudah hampir menangis karena sepertinya bukan kejadian ini yang dia mau. 

"Asa, Ibu tak mengerti lagi harus bagaimana. Ibu hanya ingin kamu tidak bergantung kepada siapapun lagi. Supaya kamu bisa berdiri sendiri tanpa Ibu. Ibu tak akan selamanya akan berada didekatmu".

Bude-budeku berkerumun di dekat Ibu, semua berusaha menguatkannya. Ada yang mengelus pundaknya, ada yang mengambilkan minuman dan ada yang hanya duduk disebelahnya tanpa berbicara apa-apa.

"Ya sudah. Aku tak mengerti apa yang kalian inginkan dariku. Aku adalah seorang yang selalu dipersalahkan dimanapun dan tak ada yang mau menerimaku."

Semua pertahananku hampir memudar, semua kekuatanku mulai melemah dan aku hanya bisa menghela napas panjang.

Bude Ian sudah tak tahan dan akhirnya ia berbicara.

"Apa yang terjadi sayang? Siapa yang menyakitimu?"

Hatiku tersentak tak pernah ada yang bertanya dan sepertinya tak pernah ada yang ingin tahu tentang apa yang telah terjadi. Semua hanya bertanya karena ingin menasihati dan memberi tahu bahwa hidup mereka lebih baik dan aku harus bersyukur, tapi sebenarnya tak peduli dengan yang sesungguhnya terjadi.

"Mungkin untuk kalian ini adalah hal yang sepele, aku menaruh kepercayaan yang amat besar terhadap seseorang dan dia pergi tanpa memberikan alasan, hanya pergi. Begitu terjadi secara berulang dan bahkan ayah pergi dari rumah tanpa bicara apapun."

Aku melihat semua memandang dan tak ada satupun yang berani berbicara. Tak ada yang pernah memberitahuku tentang kepergian Ayah dari rumah dan bahkan Ibuku sendiri.

"Aku tak percaya lagi kepada siapapun kecuali kucing-kucingku, apakah aku salah setelah semua orang memperlakukanku seperti ini?"

Ini yang aku benci dari semua orang, setelah melalukan ini kepadaku, menyudutkanku, mempersalahkanku dan mereka tetap tak punya keinginan untuk minta maaf. Mereka hanya memandang iba tapi tak juga mengerti, aku tahu penjelasanku akan sia-sia. Aku pergi meninggalkan mereka semua dalam diam.

Aku beranjak menuju kamarku, menaiki tangga sambil memeluk kucingku dan tak ada keinginan sedikitpun untuk menoleh kepada mereka. Aku membuka pintu dan merebahkan tubuhku ke kasur, memandang langit-langit yang kosong. Semua kosong. Aku bahkan tak berpikir, ketika kupejamkan mata aku langsung tertidur.

Esoknya, aku tak ada keinginan untuk melakukan apapun. Bangun tidur aku hanya memandang langit-langit, semua kosong. Kudengar Kak Anis mengetuk pintu, kuijinkan masuk dan dia duduk di kasur persis sebelah kaki kananku, pandangannya membelakangiku.

"Kamu kenapa sih semalem lagi dikasih tau malah marah-marah terus pergi?"

Aku tak punya sanggahan apa-apa. Inilah yang aku benci dari semua orang.