Senin, 30 Mei 2016

Migren dan Hati

Kira-kira beberapa bulan yang lalu, dalam jangka satu tahun saya bolos menulis di blog. Migren yang merupakan penyakit langganan saya, tiba-tiba saja tak kunjung henti. Biasanya paling parah satu minggu sekali saya migren, tapi ini tiga minggu non-stop.

Penyakit ini biasanya dimulai dengan padangan kabur yang biasanya disebut aura. Disalah satu mata entah kanan atau kiri akan buram dan disertai dengan mual. Lalu, sekitar 10-15 menit kemudian datanglah sang migren yang sangat amat menyiksa.

Kira-kira begini yang namanya Aura Migren

Ditambah saya yang introvert, kalau sedang kena serangan migren saya sama sekali enggak mau interaksi dengan siapapun. Karena mendengar orang bersuara itu bikin migren tambah parah dan kesal, kena sinar matahari atau cahaya lampu pun benci. Jadi haru sejauh mungkin interaksi dengan siapapun kecuali kegelapan dan kesendirian. Penyakit kesepian.

Dan pada masa itu saya mengalami selama tiga minggu, tiga minggu penuh siksaan karena saya sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. Setiap interaksi menambah parah, dua kali ke dokter umum tidak ada perubahan sampai akhirnya dirujuk ke Dokter Syaraf.

Berkunjunglah saya ke Dokter Syaraf di RSPAD dan bertemu dengan dokter Hardhi yang menurut saya sih ganteng. Kunjungan pertama diperiksa segala macem, lalu fisioterapi dan diberi tiga jenis obat. Satu untuk serangan, satu untuk siang dan satu untuk malam. Tiga hari disuruh mengadap dan kalau tidak ada perubahan harus CT Scan.

Bersyukur keadaan semakin membaik, tapi salah satu obat yang untuk serangan tidak berpengaruh apa-apa. Setelah tiga hari kontrol, lapor ke dokter tentang obatnya dan digantilah obat serangan yang baru yang ampuhnya luar biasa. 

Ketika saya muncul aura dan langsung minum obat serangan, migrennya bener-bener enggak balik lagi. Kontrol ketiga sudah mulai hilang migren, hanya disuruh habisin obat dan minum obat kalau serangan. Lalu kata dokter, "kamu ada konflik apa?". Dan dirujuklah ke Psikolog dan Dokter Mata.

Kenapa harus ke Psikolog karena begini:

Berbagai macam pantangan Migren
Penyebab migren itu tidak bisa sepenuhnya diketahui, bisa dari makanan, lelah fisik seperti kepanasan, terlambat makan dan kurang tidur dan juga lelah mental seperti emosi dan konflik dengan siapapun yang dibawa ke hati. Jadi, kalo punya migren emang harus hati-hati sekali, tapi ya gimana caranya kalo lagi emosi mah ya.

Setelahnya saya konsultasi ke Dokter mata di Cicendo Bandung, sekalian main sekalian berobat. Hasilnya adalah harus pake kacamata karena sudah minus tapi mingren yang saya derita tidak ada hubungannya dengan mata. Sekian.

Lalu pada akhirnya setelah beberapa waktu tidak konsultasi dengan Dokter Syaraf, si migren kembali datang dan pergi. Kali ini berlabuh diantar satu bulan atau dua minggu sekali. Sampai akhirnya setelah konsultasi dengan teman yang sedang S2 Psikologi, direkomendasikanlah dengan Psikolog.

Hasil dari Psikolog, sugestinya rahasia.
Memberanikan diri menghubungi Dr. Lia untuk mengatur jadwal konsultasi yang bikin deg-degan. Karena niat awalnya itu mau konseling biasa aja, tapi spesialisasi Dr. Lia ini adalah Hypnotherapy. Yang setelah diskusi panjang lebar tentang migren akhirnya menyesuaikan jadwal.

Dibalik migren juga waktu itu saya kehilangan seorang teman yang pertama kalinya bikin saya nangis gara-gara satu orang itu dalam waktu sebulan penuh dan empat bulan diare, setiap harinya saya buang sisa pencernaan minimal 4 kali. Ya, saya kalau sedang senang atau sedih pasti membuat diare.

Sebelum hypnoterapy entah kenapa saya tegang juga penasaran. Penasaran bagaimana saya bisa cerita begitu saja dengan orang lain yang dengan orang deket aja susahnya minta ampun. Segala macam ketakutan muncul sampai dihari yang ditentukan.

Saya pergi tanpa bilang akan kemana. 

Tepat jam tujuh malam saya tiba di rumah Dr. Lia. Ngobrol-ngobrol sebentar dan sedikit penjelasan tentang hypnoterapy dan apa yang akan dilakukan nantinya. Yang bener-bener mirip kayak di film, caranya mirip banget. Saya sepenuhnya sadar dan dalam keadaan sangat santai.

Akhirnya saya nangis sejadi-jadinya, selama dua jam tanpa henti. mengeluarkan segala rupa yang (mungkin) penyebab migren. Ya, emang belum keluar semua tapi sebagian besar segala yang tertahan oleh saya si anak introvert ini keluar. Kalau yang tidak keluar di mulut, keluar di hati tapi semua keluar. 

Efeknya saat itu saya seakan ngerti apa itu bahagia. Bahagia buat saya itu berhasil ngeluarin apa yang ada di dalam diri. Yang bikin semua beban serasa lepas. Yang dengan anehnya setelah hypno badan enggak terasa pegal-pegal lagi, migren jarang muncul dan saya jadi makin ngerti gimana caranya pake hati.

Hati itu terlalu banyak arti dan fungsi buat saya.

Hati bisa bikin bahagia. Hati yang kalau diikuti bener-bener bikin bahagia. Hati yang mengajarkan untuk berbagi. Hati yang mengajarkan untuk berbuat baik. Hati yang tidak ingin membuat orang lain susah dan terluka. 

Hati yang sudah terlalu banyak kerja keras tapi kadang disalahkan karena terlalu baik sampai melukai hati sendiri. Hati juga yang menunjukkan arah kebahagiaan. 

Jadi ikutin kata hati itu bener. Hal yang pertama kali tercetus itulah kata hati. 

Percayalah. Hati itu tidak pernah bohong.

Selasa, 24 Mei 2016

Kuliah Tujuh Tahun dan Kerja

Sesungguhnya banyak yang terjadi setahun lalu, hampir setahun enggak kesentuh ini blog sampe udah mau lumutan. Untung lumutnya masih bisa dibersihkan.

Dua minggu lagi tepat setathun enggak nulis di blog ini walaupun masih nulis di buku cacatan tapi tetep aja enggak puas gitu rasanya. 

Sebenernya ini adalah bagian dari kebiasaan seorang saya yang kalo udah lupa ya lupa, beberapa kali muncul di ingatan tapi enggak ada hasrat untuk melakukan apapun. Sampai dateng perasaan masih sayang. Sayang sama blog ini udah bertahun-tahun. Sayang jejak satu tahun kemarin tidak terekam dengan baik.

Padahal udah sampe ganti kantor, ganti kerjaan dan berada di dunia antah berantah yang bener-bener enggak paham apa-apa. Seratus persen enggak ngerti, mungkin karena waktu kuliah bukan di bidang ini atau mungkin pelajaran jaman kuliah enggak ada yang nempel.

Tapi kenyataannya, pelajaran jaman kuliah itu emang enggak nempel. 

Beberapa hal yang beneran kepake di kerjaan adalah kita mulai dari skripsi. Tapi bukan skripsinya yang jadi pelajaran melainkan proses mengerjakan skripsi. Betapa susahnya bikin janji dengan dosen, betapa susahnya bikin diri sendiri jadi konsisten dan beberapa waktu ketika dosen selalu benar dan dosen penuh perhatian dan pemaaf.

Iya, kerja itu berhubungan dengan orang lain. Yang susahnya minta ampun mau bikin janji, kadang gampang kalo temen sendiri tapi kadang juga temen sendiri jadwalnya padat. Dan itu enggak bisa diapa-apain lagi. Untungnya dari jaman bikin skripsi udah diajarin sabar dan menghargai waktu orang lain. Karena waktu adalah beneran mahal.

Lalu disaat ngerjain skripsi kita tuh dituntut untuk konsisten, sayangnya saya gak ada yang nuntut cuma waktu yang mengharuskan saya selesai atau DO. Jadi masalah konsisten ini emang masih sebuah hal yang berat. Di kantor bangun pagi, mandi, berangkat, kerja, pulang, tidur adalah kegiatan yang memaksa untuk konsisten yang untuk saya yang doyannya tidur itu susah banget. Walaupun sampai sekarang saya masih belom ngerti kenapa harus ada jam kerja. Ya, supaya konsisten memang tapi apa iya kerja harus ada waktunya, enggak bisa kita yang atur aja gitu. 

Itu jadi motivasi saya buat bikin usaha sendiri sih, biar jam kerja saya yang atur. 

Terus kita akan menemukan beragam atasan atau orang tua di kantor. Yang beneran beragam kayak dosen. Ada yang baik, ada yang mengajarkan dengan baik, ada yang keibuan, ada yang keras kepala, ada juga yang enggak ngerti kenapa dia ada disana dan kerja apa sih dia. Ya, belajar sabar lagi ketemu yang begitu karena namanya juga anak muda harus ngalah. Bener. Yang muda yang harus ngalah.

Terus selama kuliah dapet apa? Dapet temen.

Selain skripsi ada satu lagi hal yang berguna buat kerja. Spektrum. Organisasi. 

Karena bertahun-tahun berkecimpung di organisasi itu yang orang-orangnya banyak ragam, banyak mau, banyak tai. Ya, semua bisa jadi baik dan semua bisa jadi tai. Gak terkecuali, saya. Saya pasti pernah jadi tai di mata anggota spektrum begitu kebalikannya. Tapi disana ngajarin, gimana caranya jadi manusia dan berinteraksi dengan manusia.

Secara enggak sadar atau sadar, proses yang terjadi di dalam organisasi itu mendewasakan. Tau posisi dimana harus peduli dan enggak peduli, belajar mengendalikan diri, jadi pendengar yang baik, adaptasi dengan orang kayak gimana juga bisa, ngambil keputusan, sabar, tenang dan mungkin masih banyak lagi yang enggak disadari.

Satu hal sih, jadi orang segala bisa padahal enggak bisa (tadinya). Di Spektrum, itu kita kayak pencipta keajaiban. Harus bisa semuanya karena semuanya enggak mungkin bisa bantu. Mau sendiri, berdua, rame-rame sambil nangis, ketawa, marah tapi apapun yang terjadi semua harus bisa. Berbagai cerita terjadi disana yang bikin kuat mental. Mungkin kalo enggak masuk Spektrum gak akan sekuat sekarang ini.

Karena di perusahaan sekarang juga jadi pencipta keajaiban, yang bener-bener tiba-tiba harus ngerjain sesuatu yang bener-bener enggak ngerti tapi harus dipelajarin yang walaupun udah dipelajarin tetep aja kadang enggak ngerti. Tapi ya, segala bisa dengan sedikit keluhan, mungkin kalo bukan Spektrum hidup akan penuh dengan keluhan. Sejujurnya, di perusahaan ini belajarnya banyak banget.

Sepanjang kuliah tujuh tahun, syukurlah ada hal berguna yang bisa diambil dari kuliah. 
1. Skripsi
2. Spektrum
3. Temen

Selama kuliah tujuh tahun saya sih enggak pernah malu malah seneng banget karena temen saya dari yang tua sampe yang muda dan berbagai fakultas ada di Unpad. Kedua, saya puas banget main-main, cinta-cintaan, jalan-jalan yang kalo saya kuliah 4 tahun, mungkin jabatan udah tinggi tapi jabatan enggak ngebayar waktu main saya yang bebas selama 7 tahun. Ketiga, pas kerja pola pikir saya udah lebih mateng bukan sekedar anak baru lulus. 

Dan jangan takut, kuliah tujuh tahun juga bisa dapet kerjaan karena skill dan pembawaan diri lebih penting daripada tahun lulus dan IPK.

Jadi ya, buat yang masih kuliah. Nikmatilah!
Buat yang udah kerja. Yuk, main!

Rabu, 10 Juni 2015

Jalan

Aku sedang berada di persimpangan jalan, dua-dua terlihat penuh dengan liku dan tak terlihat ujungnya. Aku merasa terjebak, seseorang mengajakku kesini lalu meninggalkanku begitu saja. Lalu, sekarang aku tak tahu haru berbuat apa.

Aku tahu aku harus memilih salah satu dan pilihannya bukan kanan atau kiri, atas atau bawah, salah atau benar karena dua duanya sama-sama tak terlihat ujungnya. Gelap. Dan aku tidak mempunya pencahaayaan untuk melihat sedikit alurnya akan kemana.

Salah satu jalan terlihat mulus dan ada kebahagiaan semu, tak mungkin juga tak semu. Mungkin kebahagiaan untuk orang lain juga yang dariku tapi mungkin aku tak bahagia tapi bisa saja aku bahagia. Ah, terlalu banyak tapi.

Jalan satunya lagi tak jelas, bagus juga tidak. Tapiaku melihat aku akan bahagia tapi mungkin juga tidak, mungkin orang lain bahagia karena aku bahagia tapi mungkin juga tidak. Ah, ini juga banyak tapi.

Tapi, aku benar-benar harus memilih. Aku harus mengikuti salah satu jalan ini, tapi aku tak tahu harus memilih yang mana. Tak ada seorangpu yang bisa kutanya, tapi ini kan jalan yang harus aku tempuh buat apa aku bertanya toh dia punya jalan yang ingin ditempuhnya, kenapa aku tak tahu.

Waktu terus berlalu, perlahan orang-orang berdatangan mengajakku berbicara lalu mereka memilih jalan mereka dan hilang. Sudah banyak dan tak terhitung tapi aku masih disini, diam dan terus berpikir sehingga semakin banyak yang kupertimbangkan. Dan aku semakin bingung.

Beberapa anak-anak melewatiku dan memilih jalan mereka pilih dan beberapa orang dewasa juga begitu, ada beberapa juga yang kembali dan memilih jalan satunya dan aku hanya memandang mereka tanpa menentukan pilihan.

Aku benar-benar bingung karena mereka bilang ini keputusanku dan aku harus memilih sendiri. Sampai tiba-tiba ada satu orang yang menuntunku mengikuti jalann yang ia pilih, aku berdiri diujung jalan. Melihat dengan seksama jalan itu dan ada sedikit cahaya.

Aku cuma tahu kalau aku harus bahagia memilih jalan yang kupilih tapi aku bukan seharusnya bahagia karena harus tapi aku harus bahagia dengan pilihanku dan itu yang seharusnya jadi sebuah keharusan.

Ah, sayang waktu tak mau menungguku. Ia terus saja berjalan tanpa peduli aku sedang bingung. Dan sampai detik ini mungkin aku sudah menentukan pilihan tapi semua masih mungkin. Aku masih  berdiri di tempat yang sama.

Kamis, 21 Mei 2015

Hati Nurani

Ceritanya beberapa waktu belakangan ini saya kebanyakan berpikir dan enggak pake perasaan, makanya mau nulis juga jadi enggak keluar gitu. Dan hati jadi berat kalo kebanyakan pake pikiran. Berbagai hal menggelayut di otak saya dan enggak bisa keluar dengan asik.

Biasanya kalo begini akan menemukan jawaban dari film atau dari buku atau kadang dari cerita orang lain. Kali ini kegundahan saya terjawab atau sedikit terjawab dari mendengarkan cerita orang lain. 

Namanya jodoh kita itu kan enggak pernah tau, emang lagi jodoh kemaren lagi di Pasar Seni ketemu salah satu seniman yang bernama Pak Ajat. Mulanya saya cuma berniat mampir sebentar, foto-foto, ngobrol sedikit dan udah. Nyatanya, saya enggak bisa berenti dengerin cerita Pak Ajat.

Belajar paling asik itu dengerin cerita orang karena bener 80% dari komunikasi adalah mendengar. Karena kalau mendengar bisa belajar dari pengalaman orang lain sedangkan kalo cerita ya cuma mendengar ulang pengalaman diri sendiri yang udah tau juga.

Kembali ke topik. Semua dimulai dengan satu pertanyaan, "ini cerita dari lukisannya apa Pak?". Dn saya mendengarkan cerita berharga dari bapak berumur 70 tahun ini. 

Saya diajarkan bagaimana agar hidup bahagia, tidak serakah, indahnya berbagi, semua adalah titipan Tuhan dan semua berasal dari hati nurani. Hati, kalbu dan hati nurani. Sebuah pelajaran baru yang membuat saya terpukau. 

Semua yang diceritakan ke saya selalu ditambah dengan dongeng-dongeng yang membuat saya mudah mengerti dan jadi senang mendengarkan. Karena semua itu sambung menyambung menjadi satu dan intinya adalah hati nurani.

Tentang bagaimana kita mengetahui kapasitas diri kita dan meminta kepada Tuhan sesuatu yang sesuai dengan kapasitas kita supaya pada akhirnya ketika diberi tidak jadi mengeluh dan ujung-ujungnya menyia-nyiakan.

Saya jadi inget dulu pernah nulis tentang hati-hati sama permintaan sendiri karena biasanya setelah udah dapet ya udah lupa aja atau enggak sesuai dengan permintaan. Nah, ini dia makanya tidak boleh serakah, minta aja secukupnya yang ketika kita dikasih akan saya menghargai pemberian Tuhan.

Bedanya tipis emang serakah sama optimis tapi kita pasti tau kapasitas diri sendiri dan enggak ada gunanya bikin stres ke hal yang dunia. Asik. Lagian kan semua cuma titipan Tuhan. Ini saya lagi bener banget.

Lalu diingetin lagi, tentang rejeki yang dikasih ke kita itu juga titipan Tuhan yang disampaikan untuk berbagi ke yang memerlukan. Bukan cuma hasil kerja keras sendiri aja tapi hasil doa dan baiknya enggak digunain sendiri disayang-sayang, uang mah gak usah disayang-sayang. Orang yang harusnya disayang-sayang, berbagi sama siapapun karena uang titipan itu buat bantu orang lain. 

Saya sih percaya kalo rejeki bakalan ada aja lagi. 

Di akhir percakapan yang terhenti karena waktu, saya dibilangin untuk belajar sabar lagi dan menggunakan hati nurani sebagai sarana mendekatkan diri sama Tuhan, banyak-banyak berdoa supaya deket dan disayang. 

Ini hari kedua, banyak-banyak menghela napas dan mengingatkan diri sendiri buat sabar. Jadi, hati lebih plong dan mungkin akan bergeser bekerja dengan perasaan. Semoga didenger dan dikabulin atau ya dikasih yang terbaik.

Setelah berbulan-bulan enggak nulis dan tiba-tiba jadi bener banget rasanya otak sama hati.