Saya mau pamer, hari ini saya melakukan yang sudah lama tidak saya lakukan. Maraton film di bioskop. Yeay!! Itu menyenangkan, serius. Apalagi kalo ada yang ngimbangin ngobrolin film sama bola, itu seru! Makasih loh Tops..
Cukup ya pembukaannya, jadi hari ini saya nonton Lima Elang sama Kungfu Panda 2. Film ini seimbang banget deh, Lima Elang dapet studio paling kecil terus Kungfu Panda 2 dapet studio paling gede. Lima Elang agak anti klimaks dan Kungfu Panda 2 klimaks banget. Tapi dua-duanya sama-sama lucu dan menghibur.
Saya cerita yang Lima Elang ya, film ini ngingetin masa kecil banget waktu pernah ikutan pramuka. Karakter anak-anaknya keren dan lucu. Pemimpinnya yang lebih asik dipanggil si penggalang ini, senyumnya mantep banget.
Ceritanya seru khas anak-anak banget, lucunya dapet dan aktingnya juga dapet. Bagus. Yang agak kurang cuma kadang kameranya kalo lagi ikutan jalan bikin rada pusing dan lawan penjahatnya terlalu sebentar jadi kaya "yah, udah nih..". Tapi Kalo diliat secara keseluruhan ini bagus, karena udah lama banget enggak ada film begini, konfliknya juga seru. Wajib tonton!!
Kungfu Panda 2!! Woohooo!!! Yah, sepanjang film itu ketawa dan beberapa dialog terdiam. Dan saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Oh iya, jadi saya kaget pas liat pengisi suaranya muncullah Gary Oldman dan Seth Rogen serasa dapet bonus gitu.
Nah, ini dia dialog yang bikin saya terdiam :
"You got to let go of the stuff from past - because it just doesn't matter! The only thing that matters is what you choose to be now."
dan
"I'm not freaking out.... I'm freaking in!"
Kalimat yang terakhir sungguh kocak. Ya kira-kira kalimatnya begitu seingat saya.
Entah kenapa belakangan ini sering sekali saya ketemu kalimat atau kejadian yang menganjurkan saya untuk melewatkan masa lalu dan sepertinya akhirnya saya berhasil. Terima kasih untuk penulis Eyeshield 21, Lima Elang dan Kungfu Panda 2 serta semua yang berkecimpung disana.
Ada kalimat yang keren, kalau ada satu pintu ketutup pasti Tuhan akan membuka pintu yang lain atau kalau belum sempet jendelanya dulu yang dibuka supaya bisa lihat diluar itu seperti apa, sampai akhirnya kita yang memutuskan untuk bergerak.
Minggu, 04 September 2011
Sabtu, 03 September 2011
Semua yang Terlambat
Marcell - Semua yang Terlambat
aku..
hanya sinar yang melintas
sekedip
bagai kunang kunang kecil
dan engkau sayap sayap yang meranggas
seusai
sekepak kau mengudara
membawa hatiku semua…
kita…
ialah kata
yang terlambat
tercipta
yang semestinya tak terjadi
dan cinta
ialah rasa yang pertama dan terakhir
tuk merangkum kerinduan
kepasrahan dan maafku…
reff #1
tuk semua…
yang terlambat kulakukan
tuk semua
yang tak sanggup ku janjikan
tuk semua…
lama kucoba
memandang jejak kaki kita
tanpa sesak…
menerimamu tanpa aku mengerti
indahnya arti hari ini
tanpa harapan tuk kembali…
reff # 2
kesemua yang tak sempat ku ungkapkan
kesemua yang tak tepat ku katakan
yang tak usai kujalani yang tak ingin ku ingkari
dan semua…
dan semua…ha ha ha…
dan semua….
Cat : Suaranya Marcell yang aduhai dan lirik lagu yang memukau, ini lagunya jadi mantep banget. Beuh..
Jumat, 02 September 2011
YA-HA!!!
Saya sedang membara, kalo di komik mata saya sedang berapi-api dan penyebab saya semangat ini juga dari baca komik. Jadi ada satu komik yang saya suka banget judulnya "Eyeshield 21", komik Jepang.
Sebenernya saya udah baca komik ini, tapi beberapa hari lalu saya baca ulang dari awal sampe ini sekarang udah mau tamat. Ternyata kalo bacanya terus konsisten tanpa henti jadi hati saya ikutan baca.
Komik ini bisa bikin saya ketawa, sedih dan semangat. Komplit. Saya salut banget sama penulis ceritanya ini, karena bisa bikin saya ketawa sekaligus sedih dan sedihnya bikin saya semangat. Hebat!!
Mimpi. Semua berawal dari mimpi. Mimpi ingin menciptakan kebohongan menjadi kenyataan. Tentang rasa percaya yang ingin diwujudkan, tentang keputusan kepada diri sendiri ingin menjadi seperti apa dan akhirnya tentang orang-orang biasa yang mengejar para jenius yang bekerja keras.
Semua bergerak bahkan tidak ingin menyiakan waktu yang satu detik, semua waktu berharga. Ketika orang biasa atau jenius bergerak dengan tekad yang berbeda-beda untuk mewujudkan mimpi yang sama mereka saling bahu membahu sampai mimpi mereka terwujud.
Di dalam komik ini ada sepucuk surat dari Darrel Royal, seorang pelatih Footbal Universitas Texas. Saya kutip beberapa kalimat yang saya suka banget :
- "Kekalahan pribadi bukan hal yang memalukan. Sedangkan, kekalahan tanpa keinginan untuk bangkit kembali adalah hal yang memalukan."
- "Tidak ada atlet yang tak pernah merasakan kekalahan. Hanya saja, atlet hebat adalah mereka yang akan secepatnya berusaha bangkit dengan kerja keras. Atlet biasa adalah mereka yang sedikit terlambat bangkit, lalu atlet gagal adalah mereka yang sampai kapanpun hanya akan berdiri di pojok lapangan."
Itu dia kalimat yang bikin saya membara. Saya memang bukan atlet tapi ini kalo disambungin sama kehidupan saya nyambung banget. Saya mau nulis dan saya akan ikut lagi lomba nulis terus terus sampe saya jadi penulis beneran. Itu keputusan.
Maaf dan Memaafkan
Sepertinya ini lebaran yang berkesan untuk saya. Momen ini bikin saya tersadar sesuatu. Melepas seluruh gengsi dan egois saya yang tinggi untuk meminta maaf dan memaafkan.
Ternyata jauh lebih mudah meminta maaf daripada memaafkan. Yang saya pikir begini, kalo meminta maaf adalah membuka hati dan melepas gengsi. Sedangkan memaafkan itu membuka hati lalu menurunkan tingkat ego.
Lalu, yang membuat susah adalah ini nih, ketika berpikir untuk minta maaf berarti saya sudah menyadari kalau saya salah dan tentu harus minta maaf. Sedangkan ketika berpikir memaafkan berarti saya di posisi "merasa" benar dan membuka hati untuk memaafkan.
Ego saya yang tingginya kaya apaan tau itu harus diturunin banget dong. Jadilah itu berat buat saya, banget!
Belum berhenti sampai disana, efek dari meminta maaf dan memaafkan ini juga keren. Kalo abis minta maaf dan yang maafin langsung senyum atau keliatan seneng entah kenapa saya muncul rasa bersalah karena dulu berbuat salah. Nah, justru kalo saya yang sudah memaafkan dan itu bener-bener pake hati, beuuuhhh rasanya mantapnya pol. Tenang banget. Enggak ada beban.
Emang susah loh buat maafin yang tulus itu, tapi saya bukan Tuhan. Saya enggak punya wewenang untuk enggak maafin dan lebih enggak enak nyimpen benci.
Akhir kata, saya berharap untuk orang-orang yang sudah saya minta maafnya itu dengan tulus maafin saya dan untuk "kamu" yang diujung sana itu loh, saya sepertinya akhirnya berhasil maafin kamu loh. Hore banget kan!
Dengan tidak mengubah masa lalu, saya dan kamu tau rasa percaya tak bisa dibeli dengan maaf ya paling tidak udah enggak ada dendam di hati kita.
Ternyata jauh lebih mudah meminta maaf daripada memaafkan. Yang saya pikir begini, kalo meminta maaf adalah membuka hati dan melepas gengsi. Sedangkan memaafkan itu membuka hati lalu menurunkan tingkat ego.
Lalu, yang membuat susah adalah ini nih, ketika berpikir untuk minta maaf berarti saya sudah menyadari kalau saya salah dan tentu harus minta maaf. Sedangkan ketika berpikir memaafkan berarti saya di posisi "merasa" benar dan membuka hati untuk memaafkan.
Ego saya yang tingginya kaya apaan tau itu harus diturunin banget dong. Jadilah itu berat buat saya, banget!
Belum berhenti sampai disana, efek dari meminta maaf dan memaafkan ini juga keren. Kalo abis minta maaf dan yang maafin langsung senyum atau keliatan seneng entah kenapa saya muncul rasa bersalah karena dulu berbuat salah. Nah, justru kalo saya yang sudah memaafkan dan itu bener-bener pake hati, beuuuhhh rasanya mantapnya pol. Tenang banget. Enggak ada beban.
Emang susah loh buat maafin yang tulus itu, tapi saya bukan Tuhan. Saya enggak punya wewenang untuk enggak maafin dan lebih enggak enak nyimpen benci.
Akhir kata, saya berharap untuk orang-orang yang sudah saya minta maafnya itu dengan tulus maafin saya dan untuk "kamu" yang diujung sana itu loh, saya sepertinya akhirnya berhasil maafin kamu loh. Hore banget kan!
Dengan tidak mengubah masa lalu, saya dan kamu tau rasa percaya tak bisa dibeli dengan maaf ya paling tidak udah enggak ada dendam di hati kita.
Langganan:
Komentar (Atom)
