Jumat, 26 Februari 2010

Menunggu Dunia Berputar

Pilihan itu muncul seraya dengan pikiran yang muncul.
Pilihan untuk sendiri dan bebas atau bersama dan terhalang.
Pilihan yang tepat untuk sementara ini adalah sendiri dan bebas.
Karena monster sedang muncul, dia tidak peduli orang lain.

Monster ini hanya menyukai kejujuran dan kemenangan.
Jujur mengungkapkan apa yang dia rasakan dan merasakan kemenangan atas perkataannya.
Menunjukkan rasa bersalah yang tidak dia rasa atau menunjukkan rasa sedih yang dia karang.
Dia hanya memantaskan dirinya untuk diri sendiri, sementara ini.

Dia sombong, iya.
Dia menyebalkan, iya.
Dia sadar, iya.
Tapi dia tidak mau peduli.

Dia hanya yakin akan ada seseorang yang hebat yang sanggup menanganinnya.
Tidak akan sekarang, semua masih jauh.
Dia sangat sadar tak akan ada yang bisa menerima dia yang sangat bebas.
Tapi dia yakin, seorang akan muncul.
Tulus. Lalu, dunia akan berputar lagi.

Jumat, 19 Februari 2010

Larangan yang ada-ada saja

Sebenarnya lagi ada dua hal yang membuat saya geram karena menonton televisi di hari ini, si sinetron Indonesia dan yang diharam-haramin sama orang-orang. Nah, tentang sinetron itu nanti lagi aja ah soalnya saya pikir sinetron masih lama dengan kualitas yang menurut saya tidak bagus jadi masih ada waktu untuk ngebahas itu nanti.

Begini ceritanya, saya tadi pagi heran liat berita di tv tentang banyak sesuatu yang dibikin haram sama orang. Rambutlah, fotolah, apalah. Apa ya? yang saya inget sih itu, tapi kayanya masih banyak lagi. Jadi, saya pikir apa orang lain berhak untuk melarang seseorang untuk memilih ya?

Setau saya ya, setiap orang itu punya pikiran sendiri-sendiri dan punya pilihan sendiri-sendiri. Kadang saya suka sebel kalo ada orang yang ngelarang atau ngatur saya, tapi ya saya dengerin aja dan ga saya jalanin karena saya pikir ya itu hidup saya.

Nah ada yang menurut saya agak keterlaluan, ngelarang orang melakukan sesuatu. Kalo katanya mah haram, saya, yang saya akuin masalah agama saya biasa aja tapi setau saya tiap agama itu ada bukan untuk nyusahin umatnya. Intinya kan beriman, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Lalu, masalah agama itu kan hubungan manusia dengan Tuhannya bukan manusia disuruh manusia lain untuk mengikuti aturan yang katanya itu adalah aturan dari Tuhan.

Lagi-lagi menurut saya, ya mbok ga usah gitu ya ngurusin urusan orang lain. Biarkanlah mereka milih sendiri, toh kalo nanti salah mereka jadi belajar sendiri.

Ini tulisan kebebasan saya aja nih, kalo ada yang suka makasih dan kalo ada yang mau protes monggo dipersilahkan. Siapa tau saya ada salahnya, saya kan masih manusia juga.

Rabu, 17 Februari 2010

Biarlah yang beda tetap beda

Akhirnya tiba juga waktunya untuk mengeluarkan isi kepala saya tentang ini. Hal ini sudah lama saya pikirkan, benar loh tapi belum sampai puncaknya. Hari ini sampai juga.

Ini semua tentang manusia terutama di bagian sifatnya. Sifat manusia yang pasti berbeda-beda. Saya senang menyebutnya dengan rasis dan arogansi kelompok, yang saya pikir ada hubungannya.


Manusia itu diciptakan sendiri dan mati sendiri. Saya rasa gunanya kelompok itu untuk menjaga eksistensi dirinya. Bahasa saya gaya juga. Jadi sebenanya si kelompok itu ada untuk memperkuat individu itu sendiri, maksudnya ketika di dalam kelompok dia kuat dan ketika di luar kelompok dia bisa menjadi dirinya sendiri.

Sayangnya, yang saya lihat tidak semua begitu. Banyak orang yang merasa kuat ketika di dalam kelompoknya tapi ketika dia sendiri hilang juga nyalinya.Tidak percaya? cobalah mulai perhatikan. Menurut saya, ketika orang itu di dalam kelompok dia menjadi sama dengan yang lain dan tidak berani mengungkap perbedaan, kenapa? karena perbedaan menurutnya akan menimbulkan masalah. Yah, intinya ikut-ikutan. Contoh mudahnya dari kelompok kecil, hanya untuk memutuskan makan dimana itu bisa jadi panjang dan membuat lapar karena harus menyamakan tempat dan muncul saling ga enak. Karena si kelompok biasanya bikin orang-orang jadi sama.

Biasanya kelompok itu juga punya teman yang itu-itu saja karena merasa itu keharusan. Saya pernah mempunyai pengalaman kurang baik tentang kelompok. Kelompok yang berkuasa yang hanya main dengan kelompoknya dan ketika mereka sendiri mereka akan memanfaatkan orang yang mereka kenal lalu ketika kelompoknya datang, wusss..hilang!

Rasis. Rasis disini bukan tentang Nazi-Yahudi atau tentang kulit hitam ata kulit putih. Tapi hal yang yang sederhana yaitu tampilan fisik dan otak. Fisik yang paling terlihat. Sadar atau tidak sadar banyak orang yang rasis yang hanya mau bermain dengan yang bisa dibilang "mirip" dengan dia, misalnya yang tampilan fisik menarik atau baju bermerek dan sebagainyalah.

Biasanya mereka malu dengan orang yang kondisi fisik berbeda, misalnya gayanya aneh atau secara fisik biasa saja. Kenapa? menurut yang saya lihat itu malu. Kenapa harus malu ya? silakan tanya sendiri, tapi kebanyakan dari mereka tidak mengakui, menyangkal atau tidak sadar kalau mereka rasis.

Kebanyakan orang-orang yang arogan di kelompoknya atau yang rasis ini memanfaatkan orang lain yang ada di sekitarnya, yah kalau ada perlu sajalah. Sayangnya kebanyakan dari mereka kurang pintar untuk bermain disana dan terlihat. Pintar-pintarlah sedikit dan sadarlah kalau setiap orang diciptakan dengan keunikan masing-masing maka terima saja atau jangan tunjukkan perbedaan.

Saya membuat tulisan ini tanpa bermaksud menyinggung individu atau kelompok. Semoga sama-sama intropeksi diri. Saya juga terus belajar menghargai orang lain.

Hidup perbedaan! dan seperti kata teman saya, yang beda itu jangan dipaksa untuk jadi sama.

Minggu, 14 Februari 2010

Saya yang suka bohong dan suka jujur

Entah apa yang ada dalam pikiran saya saat ini, tapi bisa dipastikan banyak karena saya sangat ingin menulis. Sangat ingin menulis.

Sudah berjam-jam pikiran saya diliputi dengan berbagai macam pikiran, hubungan yang satu dengan yang lain dan tentang semua orang yang ada di sekitar saya, banyak yang berkaitan memang tapi inti dari semua nya adalah satu kata BOHONG.

Bohong. Setelah diulang-ulang kata itu menjadi aneh. Satu kata ini maknanya banyak sekali. Saya pernah membaca sebuah quote yang isinya adalah tidak ada kebohongan yang ada hanya menutupi kebenaran.
Jadi yang intinya si bohong itu cuma nunda kebenaran aja.

Dulu, saya sangat sangat kesal sama orang yang bohong. Sangat itu saya tulis dua kali karena ya memang itulah kenyataannya. Tapi sekarang, entah kenapa saya jadi menganggap bohong adalah hal biasa. Kenapa? karena semua orang selalu ingin terlihat baik dan menang. Bohong kalau ada yang bilang tidak.

Bohong itu selalu muncul dengan berbagai macam alasan, karena itulah saya jadi mempelajari teknik-teknik bohong. Sebenarnya tidak ada teknik pasti, tapi banyak kesamaan yang muncul saat dia bohong.
Jadi, saya mau sombong (kalau mau sombong terus bilang itu diperbolehkan) saya suka bohong dan saya suka jujur. Supaya orang-orang ga tau kalau saya bohong.

Ya, setiap orang memang bebas memilih jalannya masing-masing. Intinya kalau bohong jangan ketahuan, kalau ketahuan akibatnya fatal. Serius loh ini. Untuk orang-orang yang pernah berbohong sama saya dan merasa tidak ketahuan, saya tahu tapi tidak mau bilang karena walaupun saya suka bohong saya juga suka jujur.


saya yang suka bohong dan suka jujur.

Jumat, 12 Februari 2010

Hilang

Tidak merasa apa-apa.

Kamis, 11 Februari 2010

Saya dan mereka egois

Hari ini saya marah. Saya kesal. Saya muak. Muak dengan orang-orang yang terus berbicara disekitar saya.

Mereka egois dan saya juga. Mereka terus berbicara menurut mereka tanpa ingin mereka tahu apa sebenarnya yang paling baik. Mereka menyebalkan. Banyak dari mereka menyebalkan.

Mereka pikir mereka siapa? mereka pikir saya budak? BUKAN.

Memang mereka manusia murni yang selalu suka berbicara seakan mereka benar dan ketika mereka salah mereka akan mencaari alasan hingga mereka benar. Ya. Hanya dimata mereka. Mereka tidak menang murni. Menyedihkan.

Selasa, 09 Februari 2010

Permen Warna-Warni

Aku tersentak bangun di pagi ini, karena teringat janji penting. Hari ini aku janji dengan diriku sendiri, janji yang bisa saja kubatalkan tapi tidak. Aku bergegas, karena melihat matahari mulai bergerak menuju ke bentuk sempurnanya.

Aku membuka jendela, dan menghirup udara luar yang masih terasa sangat segar. Sudah cukup. Aku memilih pakaian terbaik, karena hari itu aku ingin melihat isi kota.

Aku membuka pintu dengan senyuman yang paling sempurna. Orang pertama yang kutemui adalah pengantar koran dengan seragam berwarna kuningnya. Kusapa dia dan dia memberikan senyum seraya memberikan korannya kepadaku. Berita utama hari itu adalah tentang hari ulang tahun kota ini, semua menyambut gembira.

Lalu, aku terus berjalan sambil bersenandung. Hari ini tepat untuk berjalan-jalan, karena cuaca sangat bersahabat. Aku melihat sebuah keranjang di tepi jalan, kuhampiri dan kulihat isinya. PERMEN. Dengan berbagai macam warna.

Aku ambil yang merah muda, jarang ada permen dengan warna ini. Langsung kumakan dan rasanya manis sekali, tapi saat itu aku suka. Setelah lama kurasa, kepalaku sakit maka kubuang sajalah.

Aku melihat warna-warna yang lain. Waw. Abu-abu? Rasanya aneh dan tidak dapat kujelaskan. Rasanya timbul dan tenggelam, tergantung berada di lidah yang mana. Sudah cukup, aku buang juga.

Setelah warna abu-abu, warna yang menarik perhatianku adalah merah. Warna merah yang ini rasanya berbeda dari merah yang lain. Bagus sekali. Ini paling menarik, segera kumakan. Hmm..ternyata permen ini tidak manis. Tapi aku suka sekali. Rasanya tepat di lidah dan tidak akan kubuang.

Aneh sekali, aku belum pernah lihat permen berwarna hitam. Aku perhatikan baik-baik, bungkusnya juga aneh sekali. Tapi akhirnya kumakan juga. Ini rasanya enak sekali. Pas sekali, tidak terlalu manis dan tidak juga pahit. Rasa yang hanya bisa kunikmati sendiri. Sendiri.

Setelah itu, aku hanya ingin kembali ke rumah dan menikmati dua rasa yang terakhir.

Senin, 01 Februari 2010

Cerita tentang Catatan

Ini adalah sebuah catatan yang bercerita. Catatan bertanya, adakah seseorang yang akan menerima dia apa adanya? Hei catatan, kamu terlihat pesimis.

Catatan berpikir, dia hanya sesuatu yang aneh dengan bentuk-betuk yang aneh karena ketika dilihat dia tidak berarti apa-apa, tapi nanti jika dia dibaca maka dia akan memiliki arti yang berbeda-beda pada setiap orang. Dia ragu apakah setiap orang mengartikannya baik atau buruk. Bagaimana dengan orang-orang yang mengartikannya buruk? Apa yang harus dia lakukan?

Banyak orang hanya menatapnya sekilas tanpa membacanya dan itu membuat semuanya menjadi pergi. Pergi entah kemana. Padahal catatan selau berusaha menerima orang apa adanya.

Akhirnya catatan berpikir untuk membiarkan saja orang-orang dangkal itu dan akan berubah menurut yang dia mau, yang dia bisa pastikan menjadi lebih baik tentunya.

Sudahlah, kali ini catatan benar-benar akan menunggu yang menerima dia apa adanya dan meninggalkan orang-orang yang menghakiminya. Semoga masih ada yang bisa mengerti si catatan ini.